SERENADA SEBUAH PERPISAHAN

Sabtu, 18 April 2009 | 23:56 WIB

Kisah ini sangat menarik hatiku,, diposting dari Kompas, yang mengingatkan kita bahwa kita akan kesana,,

Mohon ijin om Dodiek saya posting ulang di bloq saya, sekedar untuk memperluas ragam cerita akhir dari kehidupan, yang mungkin lewat bloq saya, bisa mengenal om Dodiek,, dengan kisah yang sangat saya sukai,, salam,,

Cerpen Dodiek Adyttya Dwiwanto

Hei, mau dibawa ke mana aku? Halo, semuanya! Aku mau dibawa ke mana? Hei, semuanya!

Kok, tidak ada yang mendengar ya? Apa suaraku kurang keras? Padahal biasanya teriakanku cukup lantang. Puluhan tahun yang lalu, saat masih gadis, aku pernah ikut jadi Pasukan Pengibar Bendera. Jadinya yang namanya teriak, sudah sering aku lakukan. Apalagi kemudian saat menikah, aku memiliki empat anak, dua di antaranya lelaki yang nakalnya minta ampun. Kalau aku tidak berteriak-teriak, mereka tidak akan berhenti bermain. Tidak akan mau pulang ke rumah, meski hari telah magrib. Mereka juga malas dalam membereskan kamar atau mainan. Benar-benar harus dibuat disiplin dengan teriakanku.
Hai, aku mau dibawa ke mana? Kok, nggak ada yang jawab?
Anakku, jawablah pertanyaan ibumu ini! Mau dibawa ke mana ibu ini? Kenapa aku dikeluarkan dari kamarku? Kenapa aku diangkat dari ranjang kesayanganku? Kenapa anakku?
Kok, anakku tidak menjawabnya?
Ah, mungkin anakku tidak mau menjawabnya. Mungkin suamiku sudi menjawabnya.
Suamiku sayang, mau dibawa ke mana diriku? Mau dibawa ke mana? Kenapa? Aku sudah enak berada di ranjang kesayangan kita. Tempat kita pertama kali memadu cinta saat pertama kali mengikat janji setia. Ayo, suamiku, katakan! Mau dibawa ke mana aku ini?
Hmm, biarin saja dengan anak lelakiku. Suamiku tersayang juga tidak mau menjawabnya. Kok, ia malah bisu? Kok, ia malah membopongku? Suamiku jawab, dong!
Barangkali anak perempuanku mau menjawabnya. Sepertinya tidak, kedua anak perempuanku malah terlihat orang bingung. Aneh kalian berdua. Ibu kalian dipindahkan kok kalian seperti orang linglung? Lakukan sesuatu, dong! Salah satunya ya jawab pertanyaan ibumu ini.
Aku dibopong suami dan kedua anak lelakiku masuk ke dalam mobil kami. Dua anak perempuanku mengikuti. Mereka terlihat sangat panik. Aneh, ya? Kok, panik banget! Memang kalian akan ketinggalan apa, sih?

Aku didudukkan di kursi tengah. Termangu dalam kesendirianku. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Semuanya juga terdiam dalam kepanikan mereka yang aku tidak tahu apa, mengapa dan kenapa! Di sampingku suamiku tengah memeluk erat diriku. Anak lelaki yang sulung menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Hei, anakku ini bukan balapan. Kenapa aku dibawa dalam mobil berkecepatan tinggi? Bukannya mengurangi kecepatan, ia malah makin memacu semakin kencang. Malah suamiku menuntut anakku untuk memacu mobil lebih kencang. Hei, kalian semua gila, ya? Ini mobil keluarga bukan mobil balap! Kalau aku bisa bersuara dan bisa bertindak, aku jewer kalian satu persatu.

Lho, lho, aku dengar suara isak tangis tertahan? Kedua anak perempuanku yang duduk di kursi belakang menangis terisak-isak. Kalian kenapa? Takut dengan kelakuan dua kakak laki-laki dan ayah kalian yang mengebut gila-gilaan? Mereka semua memang keterlaluan! Aku yang tengah sakit keras ini malah diajak jadi navigator! Jangan takut ibunda akan menjewer mereka semua kalau bunda telah sehat. Itu janji untuk kalian anak-anakku yang cantik!

Aku melihat mobil dibelokkan ke suatu tempat. Sepertinya aku familiar dengan tempat ini. Lho, ini kan rumahsakit tempat aku biasa berobat? Aku juga melahirkan empat anakku di rumahsakit ini. Kenapa kalian membawaku ke sini? Memangnya aku harus check up lagi? Bilang dong dari tadi, malah membisu. Kalau tahu begini, ‘kan, aku tidak perlu bertanya-tanya dan kebingungan.
Mobil masuk ruang ICU.
Lho, kenapa ICU? Tempat biasa aku check up ‘kan bukan di sini? Anakku, kamu salah nak! Ibu tidak pernah ke ICU! Ibu biasa check up sama dokter Agus, bagian penyakit dalam. Bukan di sini, anakku. Ah, percuma saja aku berteriak-teriak, anakku yang sulung sepertinya sudah tuli.
Anakku yang kedua langsung keluar meloncat. Hei, hati-hati nak, kamu bukan Batman! Ia langsung mengambil tempat tidur panjang. Buat ibumu ini? Kursi roda seperti cukup. Kamu berlebihan anakku.

Suamiku dan kedua anak laki-lakiku segera memapahku ke atas tempat tidur beroda itu. Bersama dengan tenaga medis yang kukenali, mereka setengah berlari menuju ruang ICU. Dua anak perempuanku hanya bisa mengikuti kami dari belakang sambil masih terisak-isak.
Mereka membawaku ke ruang ICU.
Oh, jadi tadi aku dibawa dengan kebut-kebutan hanya untuk tidur di ruang ICU? Aneh juga kalian semua! Masak untuk berbaring di tempat ini, aku harus terburu-buru? By the way, kenapa aku tidak dibawa ke hotel berbintang saja? ‘Kan lebih enak di sana? Ada televisi kabel, ada radio, beragam macam minuman, kasur yang empuk! Kalian semua aneh!
Aku melihat ke sekelilingku.
Eh, dokter Agus telah datang. Hai, bertemu lagi dok? Bagaimana istri dokter yang cantik jelita itu? Putri-putri dokter sekarang sekolah di mana? Lho, kok nggak dijawab, sih?
Ah, sudahlah, orang-orang di sini sepertinya tuli semua! Ditanya tidak menjawab! Menyebalkan kalian semua.

Dokter Agus memeriksaku lagi. Hei, dok, aku baik-baik saja, ‘kan? Atau aku akan bertambah parah? Ya, kalau begitu, mungkin sudah jadi suratan takdirku untuk berpisah dengan suami dan keempat anak-anakku.

Dokter Agus berbicara kepada suami dan keempat anakku. Aku mendengarnya. Katanya, aku sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh! Aku akan meninggalkan dunia ini. Aku akan bertemu dengan penciptaku, Tuhan Semesta Alam.
Oh, begitu dok. Tapi sebaiknya dokter berbicara juga kepadaku, dong! Jangan kepada suami dan anak-anakku saja! Dokter bagaimana, sih? Menjaga kerahasiaan pasien, ya? Aku tahu itu, dok! Tapi aku ‘kan juga tidak lama lagi di dunia ini. Dokter, please, deh!

Setelah mendengar penjelasan itu, suami dan keempat anakku langsung berteriak histeris! Woi, biasa saja, dong! Ada pertemuan, ada juga perpisahan! Itu sudah menjadi hukum Tuhan Semesta Alam.

Aku melihat kedua anak perempuanku menangis. Mereka berdiri di samping dokter Agus. Keduanya terlihat memegang sapu tangan. Mereka juga berusaha memegang tangan dan kakiku. Lantas kalau sudah dipegang, aku akan sembuh, dok?
Di sisi lain, suami dan kedua anak laki-lakiku juga tengah memegang tangan dan kakiku. Hmm, tidak mau berpisah denganku, ya? Kenapa, sih, kalian ini? Mungkin sudah waktunya kita semua berpisah? Aku sebagai ibu tidak lagi ada di antara kalian. Aku sebagai istri juga tidak bisa lagi menghibur suamiku tercinta. Tapi kalau itu sudah ditakdirkan, apa yang kita bisa lakukan sebagai manusia?
Hei, anakku yang laki-laki! Kamu jangan menangis sayang! Tegar! Kamu harus bisa jadi laki-laki sejati.
Suamiku sayang, jangan menangis juga! Kamu harus bisa meredakan kesedihan anak-anak kita!
Aku melihat sekelilingku.
Sepertinya aku tidak bisa menggerakkan anggota tubuhku lagi. Kok, kayak kaku semuanya? Mungkin ini tanda-tandanya! Mungkin sebentar lagi aku akan segera berpisah dengan kalian!

Aku melihat seorang yang tidak familiar. Aku melihat sosok yang asing. Mungkinkah ini malaikat pencabut nyawa? Mungkin mahluk ini yang akan membawaku ke alam lain, entah surga atau neraka? Jadi ia akan menjadi penjemputku? Sepertinya iya.

Sosok itu tidak bisa dilihat dokter Agus, suamiku, dua anak laki-lakiku dan juga dua anak perempuanku. Hanya aku yang bisa melihatnya.
Sudah waktunyakah aku pergi?
Sosok itu mengatakan sebentar lagi.
Oke, aku akan menunggu. Aku akan membiarkan suami dan keempat anak-anakku untuk menikmati masa-masa terakhir mereka bersamaku.

Suamiku, mungkin sudah saatnya kita berpisah. Jaga baik anak-anak kita. Sayangku, aku tidak akan bisa menyaksikan mereka semua duduk di pelaminan. Aku tidak akan bisa menyaksikan kedua anak lelakiku datang dan memperkenalkan calon istrinya yang cantik jelita kepadaku. Aku tidak akan melihat mereka berpakaian adat Jawa dan tampil bak raja dan ratu sehari. Aku juga tidak akan bisa menyaksikan dua anak perempuanku tampil cantik bak putri keraton di hari pernikahan mereka. Siapa lelaki yang beruntung mendapatkan dua bidadari kecilku? Mungkin aku hanya bisa menyaksikan semua itu dari kejauhan, dari alam sana, entah di mana itu berada. Aku juga belum tahu.

Anak lelakiku, tabahkan hati kalian. Kalian harus menjadi laki-laki sejati. Jaga ya, ayahmu. Jauhkan ia dari rokok dan kopi. Ia tidak pernah jera kalau aku yang memarahinya. Mungkin justru kalian yang bisa meredamnya. Jaga juga dua adik perempuanmu, ya? Jaga mereka dari laki-laki bajingan yang tidak bertanggungjawab. Kalian harus berjanji, ya? Harus anakku!

Anak perempuanku, tolong urus rumah sepeninggal ibu, bergantian dengan kakak-kakak laki-laki kalian. Kalian harus bisa jadi perempuan mandiri. Jangan bergantung kepada ayah dan kakak-kakak kalian. Begitu juga kelak nanti, jangan terlalu mengandalkan suami-suami kalian. Anak perempuanku, ingatlah pesan terakhir ibumu ini.

Sepertinya waktuku telah habis di dunia ini, bukan begitu wahai sosok misterus?
Sosok misterius itu seperti memberikan tanda iya.

Oke, suamiku, anak-anakku, dan juga dokter Agus, aku mohon pamit dari dunia ini. Tolong sampaikan salamku kepada orang-orang yang pernah mengenalku. Tolong katakan kalau aku punya kesalahan, harap dibukakan pintu maaf seikhlas-ikhlasnya. Mohon jangan ada dendam agar jalanku menuju alam lain lebih lapang lagi.
Saatnya aku berpisah!

Berpisah dengan suamiku tersayang telah menemani hampir 25 tahun ini. Tidak bersua lagi dengan keempat anak-anakku tercinta yang telah aku lahirkan dan besarkan dengan penuh kasih sayang.
Sosok misterius itu menuntunku keluar dari jasadku!
Dokter Agus memberitahukan suami dan keempat anakku kalau aku telah meninggalkan dunia yang fana ini. Isak tangis pecah. Suamiku memekik, tidak rela berpisah. Dua anak perempuanku langsung pingsan. Dua anak laki-lakiku histeris. Tinggallah dokter Agus yang kebingungan. Kemudian ia menyuruh beberapa perawat yang tengah bertugas untuk menenangkan suami dan anak-anakku.

Wahai, suamiku! Juga anak-anakku! Terimalah kenyataan ini. Kalau memang kita semua harus berpisah. Toh, kelak seperti dijanjikan Yang Maha Esa, mungkin kita semua akan berkumpul lagi menjadi sebuah keluarga di alam sana. Relakan kepergian istrimu ini, wahai suami terkasih! Ikhlaskan jalan ibu, hai anak-anakku tercinta. Aku ingin jalanku menuju alam sana baik-baik saja. Aku juga sudah capek dengan penyakit dalam yang kuderita selama bertahun-tahun ini yang tiada kunjung sembuh.

Dokter Agus melipat kedua tanganku. Dua anak perempuanku masih pingsan. Mereka tengah disadarkan oleh kedua anak laki-lakiku. Sedangkan suamiku hanya duduk termangu. Perawat kemudian membawa keluar ruang ICU. Mereka akan membawaku ke ruang jenazah.
Selamat jalan suamiku.
Selamat jalan anak laki-lakiku.
Selamat jalan anak perempuanku.
Selamat jalan semuanya.

Mereka membawaku melewati sebuah ruangan tempat bayi-bayi baru saja dilahirkan. Hmm, ada kematian, ada kelahiran. Ada pertemuan, ada juga perpisahan.
Hei, ada seorang bayi laki-laki yang tampan. Hei, bocah, selamat datang dunia ini! Aku justru akan segera menuju dunia yang lain. Bayi itu tersenyum. Ah, gantengnya. Ah, salam pertemuan sekaligus perpisahan dariku.
Selamat tinggal dunia.

Selasar Ruang ICU Rumahsakit Mataram, Lombok, 6 November 2006

———–

Dodiek Adyttya Dwiwanto. Lulusan Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Gadjah Mada. Tulisan-tulisannya seperti cerita pendek, resensi buku, dan artikel sepakbola dimuat di berbagai media cetak nasional. Saat ini, bekerja sebagai humas di sebuah perusahaan, selain juga menjadi kolumnis sepakbola di sebuah media cetak nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s